A.Pengertian
Perkembangan kognitif.
Serupa dengan aspek-aspek
perkembangan yang lainnya, kemampuan kognitif anak juga mengalami perkembangan
tahap demi tahap. Secara sederhana, pada buku karangan (Desmita, 2009)
dijelaskan kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk
berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan
masalah. Dengan berkembangnya kemampuan kognitif ini akan memudahkan peserta
didik menguasai pengetahuan umum yang lebih luas, sehingga anak mampu
melanjutkan fungsinya dengan wajar dalam interaksinya dengan masyarakat dan
lingkungan.
Sehingga dapat dipahami bahwa
perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang
berkaitan dengan pengetahuan, yaitu semua proses psikologis yang berkaitan
dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya, sesuai buku
karangan (Desmita, 2009).
Menurut Mayers (1996), “cognition
refers to all the mental activities associated with thinking, and remembering.”
Pengertian yang hampir serupa dengan pengertian yang diberikan oleh Margaret W.
Matlin (1994), yaitu: “cognition, or mental activity, involves the acquisition,
storage, retrieval, and use of knowledge.”
Dalam Dictionary of Psychology karya
Drever, dijelaskan bahwa “kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap
mode pemahaman, yaitu persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian dan
penalaran” (Kuper & Kuper, 2000). Pengertian ini pun hampir senada dengan
pengertian pada Dictionary of Psychology karya Chaplin (2002), dijelaskan bahwa
“kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan, termasuk
didalamnya mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka,
membayangkan, memperkirakan, menduga, dan menilai. Secara tradisional, kognisi
ini dipertentangkan dengan konasi (kemauan) dan dengan afeksi (perasaan).”
Sejumlah ahli psikologi juga
menggunakan istilah thinking atau fikiran ini untuk menunjukkan pengertian yang
sama dengan cognition, yang mencakup berbagai aktifitas mental, seperti:
penalaran, pemecahan masalah, pembentukan konsep-konsep, dan lain-lain.
Sehingga dalam hal ini, Myers (1996) menjelaskan bahwa, “thinking, or
cognition, is the mental activity associated with processing, understanding,
and communicating information…these mental activities, including the logical
and sometimes illogical ways in which we create concepts, solve problems,
make decisions, and from judgments.” Atkinson, dkk, (1991) mengartikan berfikir
sebagai “kemampuan membayangkan dan menggambarkan benda atau peristiwa dalam
ingatan dan bertindak berdasarkan penggambaran ini. Pemecahan masalah yang
berdasarkan pikiran dibedakan dengan pemecahan masalah melalui manipulasi yang
nyata.”
Perkembangan kognitif sebagian besar
ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan.
Pengetahuan datang dari tindakan. Piaget meyakini bahwa pengalaman-pengalaman
fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan.
Sementara itu bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya
berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya
memuat pemikiran itu menjadi lebih logis (Nur, 1998), dalam posting (Anwar
Holil, 2008).
Dari beberapa pengertian diatas
dapat disimpulkan dan dapat dipahami bahwa kognitif atau pemikiran adalah
istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas
mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan pengolahan
informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan
masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang
berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati,
membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita,
2009).
Ide-ode dasar Teori Piaget dalam Perkembangan Kognitif.
Beberapa konsep dan prinsip tentang sifat-sifat perkembangan
kognitif anak menurut piaget, antara lain :
1.Anak adalah pembelajar yang aktif.
Menurut Piaget, anak itu tidak hanya mengobservasi dan
mengingat semua yang mereka lihat dan mereka dengar secara pasif. Padahal
secara natural mereka memiliki rasa ingin tahu tentang dunia mereka dan secara
aktif berusaha mencari informasi untuk membantu pemahaman dan kesadarannya
tentang realitas dunia yang mereka hadapi itu.
Dalam memehami dunia mereka sacara aktif, anak menggunakan
“schema”(skema) seperti yang disebutkan oleh Piaget, yaitu konsep-konsep atau
kerangka yang ada dalam pikiran anak yang digunakan untuk mengorganisasikan dan
menginterpretasikan informasi.
2.Anak mengorganisasi apa yang
mereka pelajari dari pengalamannya.
Anak-anak itu tidak hanya mengumpulkan semua yang mereka
pelajari dari fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan. Sebaliknya anak
memberikan gambaran khusus untuk membangun suatu pandangan menyeluruh
tentang dunia dan kehidupan sehari-hari.
3.Anak menyesuaikan diri dengan
lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Ketika anak menggunakan dan beradaptasi terhadap skema yang
mereka buat, ada dua proses yang bertanggung jawab yaitu assimilation dan
akomodasi. Asimilasi terjadi apabila seorang anak memasukkan pengetahuan baru
ke dalam pengetahuan yang sudah ada, yaitu anak mengasimilasikan lingkungan
kedalam suatu skema. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi
baru, yaitu anak menyesuaikan skema yang dimilikinya dengan lingkungannya.
4.Proses ekuilibrasi menunjukkan
adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk pemikiran yang lebih komplek.
Menurut Piaget, ketika anak melalui proses penyesuaian
asimilasi dan akomodasi system kognisi anak berkembang dari satu tahap ke tahap
yang selanjutnya, sehingga kadang-kadang mencapai keadaan equilibrium, yaitu
keadaan seimbang antara struktur kognisinya dan pengalamannya dilingkungan.
Menurut Piaget, pikiran anak kecil
berbeda secara kualitatif dibandingkan dengan anak yang lebih besar. Maka dia
menolak tentang definisi intelegensi yang didasarkan pada jumlah jawaban yang
benar dalam suatu tes intelegensi.
B.Proses Perkembangan Kognitif
Dalam pembahasan proses perkembangan
kognitif, ada dua alternative proses perkembangan kognitif yaitu pada teori dan
tahap-tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Piaget dan proses perkembangan
kognitif oleh para pakar psikologi pemprosesan informasi.
1.Teori
Perkembangan Kognitif Piaget.
Piaget meyakini bahwa pemikiran
seorang anak berkembang dari bayi sampai dia dewasa. Menurut teori Piaget,
setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai
mengijak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif, yaitu tahap
aensori-motorik (dari lahir sampai 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2
sampai 7 tahun), tahap konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun), dan tahap
operasional formal (usia 11 tahun ke atas), dalam buku karangan
Desmita(2009:101) dan (Anwar Holil,2008).
a.Tahap
Sensori-Motorik (usia 0 sampai 2 tahun)
Desmita
(2009:101) Dikatakan bahwa bayi bergerak dari tindakan reflex instinktif pada
saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman
tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan
tindakan fisik. Dalam postingnya, (Arya, 2010) ”Piaget berpendapat bahwa dalam
perkembangan kognitif selama stadium sensori motorik ini, inteligensi anak baru
nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi simulasi sensorik. Dalam
stadium ini yang penting adalah tindakan konkrit dan bukan tindakan imaginer
atau hanya dibayangan saja.” Pada proses ini Piaget menamakan proses
desentrasi, artinya anak dapat memandang dirinya sendiri dan lingkungan sebagai
dua entitas yang berbeda.
b.Tahap
Pra-Operasional (usia 2 sampai 7 tahun)
Pada tahap
ini anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dari berbagai gambar.
Kata dan gambar-gambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis
dan melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik (Desmita, 2009).
Begitu juga dari sumber posting (Joesafira,2010) pada tahapan pra-operasional
menurut piaget ada beberapa cirri antara lain :
1)Berpikir
pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu (secara perseptual,
emosional-motivational, dan konsepsual) untuk mengambil perspektif orang lain.
2)Cara
berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi
dengan situasi yang multi-dimensional, maka ia akan memusatkan perhatiannya
hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain dan
akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini.
3)Berpikir
pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (irreversable). Anak belum mampu
untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah
yang sebaliknya.
4)Berpikir
pra-operasional adalah terarah statis.
5)Berpikir
pra-operasional adalah transductive (pemikiran yang meloncat-loncat). Tidak
dapat melakukan pekerjaan secara berurutan.
6)Berpikir
pra-operasional adalah imaginatif, yaitu menempatkan suatu objek tidak
berdasarkan realitas tetapi hanya yang ada dalam pikirannya saja.
c.Tahap
Konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun)
Ditahap ini anak dapat berpikir
secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan
benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda (Desmita, 2009). Tetapi dalam
tahapan konkret-operasional masih mempunyai kekurangan yaitu, anak mampu untuk
melakukan aktivitas logis tertentu tetapi hanya dalam situasi yang konkrit.
Dengan kata lain, bila anak dihadapkan dengan suatu masalah secara verbal,
yaitu tanpa adanya bahan yang konkrit, maka ia belum mampu untuk menyelesaikan
masalah ini dengan baik.
d.Tahap
Operasional Formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Ditahap ini remaja berfikir dengan
cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistik. Dalam blog (Joesafira,
2010) tahap operasional formal mencakup dua hal, yaitu :
1)Sifat
deduktif-hipotesis
Ketika anak mendapatkan masalah,
maka mereka akan membentuk strategi-strategi penyelesaian berdasarkan hepotesis
permasalahan tersebut. Maka dari itulah berpikir operasional formal juga
disebut berpikir proporsional.
2)
Berpikir operasional formal juga berfikir kombinatoris.
Berpikir operasional formal memungkinkan
orang untuk mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah.
Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General
Information and Verbal Analogies, Jones dan Conrad ( Loree dalam Abin
Syamsuddin M, 2001 ) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi
berlangsung sangat pesat sampai masa remaja, setelah itu kepesatannya berangsur
menurun.
2.Teori
Pemprosesan Informasi.
Desmita (2009:115) Perkembangan
kognitif dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan system pemprosesan
informasi sebagai alternatif terhadap teori kognitif Piaget. Pada teori Piaget
perkembangan kognitif digambarkan dengan berbagai tahap tetapi, para pakar
psikologi pemprosesan informasi lebih menekankan pentingnya proses-proses
kognitif atau menganalisis perkembangan keterampilan kognitif, seperti
perhatian, memori, metakofnisi dan strategi kognitif.
Setidaknya ada tiga dasar asumsi
umum teori pemprosesan informasi (Zigler & Stevenson, 1993) dalam buku
Desmita(2009:116) yaitu :
a.Pikiran
dipandang sebagai suatu system penyimpanan dan pengembalian informasi.
b.Individu-individu
memproses informasi dari lingkungan.
c.Terdapat
keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang individu.
Berdasarkan pemaparan diatas maka
dapat kita pahami bahwa teori pemprosesan informasi lebih menekankan bagaimana
individu memproses informasi tentang dunia, bagaimana informasi masuk ke dalam
fikiran, bagaimana penyimpanan dan penyebaran informasi dan bagaimana
pengambilan kembali informasi untuk melaksanakan aktivitas yang kompleks.
Sehingga inti dari pendekatan pemprosesan informasi ini adalah proses memori
dan proses berfikir.
Dalam buku (Desmita, 2009), Robert
Siegler (1998) mendiskripsikan tiga karakteristik utama dari pendekatan
pemprosesan informasi, yaitu proses berfikir, mekanisme pengubah, dan
modifikasi diri. Seperti uraian diatas, kita ketahui para ahli teori pemrosesan
informasi menolak pendapat Piaget tentang tahap-tahap perkembangan kognitif.
Mereka percaya bahwa proses kognitif berkembang secara gradual dan cendrung
tetap. Berikut ini akan dikemukakan kecendrungan perkembangan beberapa
kemampuan kognitif anak, seperti persepsi, atensi, dan memori.
C.Karakteristik perkembangan kognitif
Dalam buku karangan (Desmita, 2009)
karakteristik perkembangan kognitif peserta didik dibagi dalam dua tahap yaitu
tahap usia sekolah (SD) dan Remaja (SMP dan SMA).
1.Usia
Sekolah (Sekolah Dasar)
Berdasarkan pada teori kognitif
piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar masuk dalam tahap pemikiran kongkret-operasional,
yaitu masa dimana aktivitas mental anak terfokus pada objek-objek yang nyata
atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Menurut pieget, operasi
adalah hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema.
Sedangkan opersi kongkret adalahaktifitas mental yang difokuskan pada
objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau kongkreat dapat di ukur. Desmita
(2009:104).
Artinya anak usia sekolah dasar
sudah memiliki kemampuan untuk berpikir melalui urutan sebab akibat dan mulai
mengenali berbagai cara pemecahan permasalahan yang dihadapinya. Anak usia ini
juga dapat mempertimbangkan secara logis hasil dari sebuah kondisi atau situasi
serta tahu beberapa aturan atau strategi berpikir, seperti penjumlahan,
pengurangan penggandaan, mengurutkan sesuatu secara berseri dan mampu memahami
operasi dalam sejumlah konsep, seperti 5 x 6 = 30 dan 30 : 6 = 5 (Jhonson &
Medinnus, 1974).
Dalam buku psikologi perkembangan
peserta didik karangan Desmita (2009:104) menurut pieget, anak-anak pada masa
kongkret operasional (masa sekolah SD) ini telah mampu menyadari konservasi,
yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda
secara serempak (Jhonson & Medinnus, 1974). Hal ini adalah karena pada masa
ini anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan
operasi-operasi: negasi, resiprokasi dan identitas.
a.Negasi (negation)
Pada masa pra-opersional anak hanya melihat keadaan
permulaan dan akhir dari deretan benda, dengan kata lain mereka hanya
mengetahui permulaan dan akhirnya saja tetapi belum memahami alur tengahnya.
Tetapi pada masa kongkret opersional, anak memahami proses apa yang terjadi
diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya.
b.Hubungan timbal balik
(resiprokasi)
Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu
diubah, anak mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang, tetapi
tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain. Karena anak mengetahui
hubungan timbale balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya kurang
panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang
ada pada kedua deretan itu sama. Desmita (2009:105). Sehingga dalam masa ini
anah mulai mengerti tentang hubungan timbal balik.
c.Identitas
Pada usia sekolah (SD) anak sudah mengetahui berbagai benda
yang berada dalam suatu deretan, bisa menghitung, sehingga meskipun
susunan dalam deret di pindah, anak tetap mengetahui jumlahnya sama. (Gunaris,
1990) dalam (Desmita,2009). Jadi, anak pada usia sekolah (masa Konkrit
operasional) dapat mengetahui identitas berbagai benda dan mulai memahami akan
susunan dan urutan tertentu.
2.Remaja
(SMP dan SMA)
Pada masa
remaja, kemampuan anak sudah semakin berkembang hingga memasuki tahap pemikiran
operasional formal. Yaitu suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada
usia kira-kira 11 dan 12 tahun dan terus berlanjut sampai usia remaja
sampai masa dewasa (Lerner & Hustlsch, 1983) dalam (Desmita, 2009). Pada
masa remaja, anak sudah mampu berfikir secara abstrak, menalar secara logis,
dan menarik kesimpulan dari informasi yang sudah tersedia.
Pada masa
remaja, anak sudah mampu berfikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga ia
mampu berfikir apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi. Mereka sudah mampu
berfikir masa akan datang dan mampu menggunakan symbol untuk sesuatu benda yang
belum diketahui.
D.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif.
Perkembangan kognitif merupakan
salah satu topik yang sering dibicarakan dan diperdebatkan banyak orang.
Berbagai cara dilakukan supaya perkembangan kognitif seorang anak menjadi
optimal. Perkembangan kognitif meliputi perkembangan dalam hal pemikiran,
intelegensi, dan bahasa.
Berdasarkan posting dari (Wiriana,
2008), kemampuan kognitif seseorang dipengaruhi oleh dua hal yaitu, faktor
herediter atau keturunan dan faktor non herediter. Faktor herediter merupakan
faktor yang bersifat statis, lebih sulit untuk berubah. Sebaliknya, faktor non
herediter merupakan faktor yang lebih plastis, lebih memungkinkan untuk
diutak-atik oleh lingkungan. Pengaruh non herediter antara lain peranan gizi,
peran keluarga, dalam hal ini lebih mengarah pada pengasuhan, dan peran
masyarakat atau lingkungan termasuk pengalaman dalam menjalani kehidupan.
Perkembangan kognitif sendiri sudah
dapat dipersiapkan sejak dalam kandungan sampai dewasa. Asupan gizi yang sehat
dan seimbang menjadi fondasi bagi perkembangan kognitif. Calon bayi juga dapat
dirangsang dengan cara memberikan stimulus atau rangsangan seperti, mengajak
bercakap-cakap, mendengar musik, melakukan relaksasi, menjaga stabilitas emosi
pada ibu. Setelah lahir, rangsangan yang diberikan juga tetap diberikan.
Salah satu perkembangan fisik yang
mempengaruhi perkembangan kognitif adalah perkembangan otak (Wiriana, 2008).
Otak berkembang paling pesat pada masa bayi. Pada masa kanak-kanak otak tidak
bertumbuh dan berkembang sepesat masa bayi. Pada masa awal kanak-kanak,
perkembangan otak dan sistem syaraf berkelanjutan. Otak dan kepala bertumbuh
lebih pesat daripada bagian tubuh lainnya. Bertambah matangnya otak,
dikombinasikan dengan kesempatan untuk mengalami suatu pengalaman melalui
rangsangan dari lingkungan menjadi sumbangan terbesar bagi lahirnya
kemampuan-kemampuan kognitif pada anak. Artinya, perkembangan kognitif menjadi
optimal jika ada kematangan dalam pertumbuhan otak serta ada rangsangan dari
lingkungannya.
Kasih sayang merupakan suatu aspek
penting dari relasi keluarga pada masa bayi yang dapat mempengaruhi
perkembangan kognitif pada anak ke depannya (Wiriana, 2008). Penting diperhatikan
bahwa kasih sayang pengasuh pada tahun-tahun pertama kehidupan anak menjadi
kunci pada perkembangan selanjutnya. Seorang pakar psikologi perkembangan,
Diana Baumrind meyakini bahwa orang tua hendaknya tidak menghukum atau
mengucilkan anak namun sebagai gantinya orang tua harus mengembangkan
aturan-aturan dan mencurahkan kasih sayang pada anak.
Dalam posting (Wiriana, 2008) pun
dijelaskan tentang faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif adalah:
1.Gaya
pengasuhan.
Baumrind menekankan tiga tipe gaya
pengasuhan yang dapat mempengaruhi perkembangan
kognitif, pada anak (Wiriana, 2008), yaitu :
a.Gaya pengasuhan Otoriter
(authoritarian parenting)
Gaya pengasuhan otoriter adalah
suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti
perintah-perintah orangtua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang
otoriter menetapkan batasan-batasan yang tegas dan tidak memberikan peluang
pada anak untuk berbicara atau bermusyawarah. Perkembangan kognitif anak juga
menjadi kurang optimal karena kurang ada kesempatan untuk mengekspresikan rasa
ingin tahu, mengembangkan kreativitas serta menyelesaikan masalah secara
mandiri.
b.Gaya pengasuhan Otoritatif
(authoritative parenting)
Gaya
pengasuhan Otoritatif adalah merupakan pengasuhan yang mendorong anak untuk
tetap mandiri tapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas
tindakan-tindakan mereka. Orangtua mampu menunjukkan kehangatan dan kasih
sayang sekaligus memungkinkan untuk melakukan musyawarah dalam menghadapi
persoalan.
Pengasuhan otoritatif diasosiasikan
dengan kompetensi sosial yang baik pada anak. Perkembangan kognitif
diprediksikan menjadi lebih optimal karena anak memiliki kesempatan untuk
mengembangkan kreativitas, kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem
solving) namun tetap mengetahui norma atau aturan yang berlaku, maupun
mengembangkan rasa ingin tahu tanpa mengalami ketakutan.
c.Gaya pengasuhan
Permisi (permissive parenting)
Gaya pengasuhan permisi dibagi
menjadi dua yaitu :
a. Pengasuhan permissive indulgent
Pengasuhan permissive indulgent
merupakan suatu gaya pengasuhan dimana orangtua menjadi sangat terlibat dalam
kehidupan anak tetapi menetapkan sedikit batasan atau kendali terhadap perilaku
mereka. Perkembangan kognitif ini menjadi kurang optimal karena tidak
mengetahui mana hal yang benar dan kurang benar. Biasanya mereka jarang menaruh
hormat pada orang lain, cenderung egois (selfistype), dan mengalami kesulitan
untuk mengendalikan perilaku mereka.
b.
Pengasuhan permissive indifferent
Pengasuhan permissive indifferent
adalah gaya pengasuhan dimana orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan
anak. Mereka berkembang menjadi pribadi yang cenderung liar, kurang
mampu mengenal aturan serta menjadi kurang mampu membangun kemandirian dengan
baik.
2.Pengaruh
lingkungan.
Pengaruh lingkungan juga memberikan
andil yang cukup besar terhadap perkembangan kognitif anak. Lingkungan dalam
konteks ini adalah lingkungan di luar rumah atau keluarga. Lingkungan pertama
yang berpengaruh adalah sekolah, pengaruh teman sebaya (peers), status sosial
ekonomi, peran gender dalam keluarga, dan media masa.
Lingkungan yang kondusif bagi
perkembangan kognitif anak adalah lingkungan yang mampu merangsang rasa ingin
tahu, kemampuan untuk mengamati serta menyelesaikan masalah serta mengembangkan
alternative penyelesaian masalah.
Beberapa tips untuk mengembangkan
kemampuan kognitif pada anak (Wiriana, 2008), antara lain :
1. Asupan gizi yang memadai dan
disesuaikan dengan kebutuhan anak.
2. Melakukan beberapa latihan fisik
dan relaksasi seperti, brain gym.
3.
Keluarga sebagai fondasi bagi perkembangan anak ke depan hendaknya
mampu menciptakan suasana yang harmonis, hangat dan
penuh kasih sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar